Showing posts with label Ust Wijaya Rahmat. Show all posts
Showing posts with label Ust Wijaya Rahmat. Show all posts

Kajian Ahad Malam di Majelis Ta'lim As Sunnah oleh Ustad Wijaya Rahmat.Tanggal 3 Oktober 2010.

Bulan Syawal merupakan bulan peningkatan. Idealnya meingkat Imannya, meningkat amal sholehnya dan meningkat taqwanya, itulah yang diharapkan dengan siam ramadhan semoga taqwanya bertambah. La'allakum Tattaquun (semoga taqwa), namun demikian kata La'alla hanya menjadi sekedar harapan, bukan jaminan menjadi orang taqwa. Shingga, meskipun sudah selesai bulan Ramadhan dan sudah masuk Syawal, belum tentu semua umat islam yang melakukan ibadah shiam Ramadhan berbuah Taqwa.


Ada Orang yang mengatakan Idul Fitri = kembali suci, lho kalao suci berarti harus sudah lebih bagus dan menuju taqwa... tidak. 'Idul Fitri artinya bukan kembali suci, siapa bilang suci? Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wassalam bersabda" betapa banyaknya orang shiam, tetapi tidak mendapat apa-apa dari shiamnya itu kecuali lapar dan haus" Jadi tidak dijamin....
Setelah selesai Ramadhan ada yang meningkat taqwanya, tetapi juga ada yang hanya mendapat lapar dan haus. Ikuti rekamannya dengan mendownload link berikut ini:
Ustad Wijaya Rahmat 3 Oktober 2010

Read More..

iKajian Ustad Wijaya Rahmat kali ini tidak melanjutkan kitab Tauhid Jilid 1 sebagaimana biasanya, tetapi mereview kajian-kajian sebelumnya, dan himbauan agar setelah memperoleh ilmu dari pengajian rutin ini, dapat ditularkan kepada anak dan isteri dirumah, sebagaimana Surat At-Tahrim ayat 6, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan"

Laki-laki bertugas menjaga anak dan isterinya supaya tidak masuk neraka, laki-laki yang sudah berkeluarga, setelah menikah maka bagi laki-laki kewajibannya dan bagaimana hubungannya dengan isteri, tanggung jawabnya kepada keluarga (anak isteri) diterangkan oleh Allah di dalam Quran Surat An-Nisa ayat 34: " Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
Dalam ayat ini diterkangkan bahwa kaum laki-laki merupakan pemimpin kaum wanita, kenapa Allah mengamanatkan kaum laki-laki? yang sering kita dengar, saling membina, saling memimpin, saling membimbing. Tetapi ayat berbunyi "Arrijaalu Qawwaamuuna 'alannisaa" (laki-laki merupakan pemmpin kaum wanita). Disini artinya bertindak sebagai orang dewasa terhadap wanita, yang menguasai, yang mendidik, yang membimbing, yang mengarahkan, yang membina wanita yakni isterinya. Apa sebabnya Allah mengamanatkan kaum laki-laki untuk memimpin kaum wanita? sebabnya diterangkan dalam ayat berikutnya....silahkan mendengarkan rekaman kajian lengkapnya dengan mendownload melalui link berikut:

- Kajian Ustad Wijaya Rahmat tanggal 20 Juni 2010
- Kajian Ustad Wijaya Rahmat tanggal 20 Juni 2010 (tanya jawab)

Read More..

Ringkasan kajian Majelis Ta'lim As-Sunnah tanggal 6 Juni 2010, disampaikan oleh Ustad Wijaya Rahmat dengan tema : Masalah Kiriman Pahala. Versi Audio dapat anda download melalui link yang terdapat pada akhir artikel ini.

Hadis diriwayatkan beberapa Imam, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah dan Imam Ahmad, Bahwasanya Rosululloh SAW bersabda: "Sesungguhnya yang sebaikbaik yang dimakan seseorang adalah hasil usahanya, dan anak termasuk dari hasil usahanya". Hadis yang lain yang Diriwayatkan dari aisyah bahwa Nabi Shollallu 'alaihiwasallam bersabda, "anak seseorang itu merupakan usahanya, termasuk usaha yang baik. silahkan kamu makan dari hartanya"

Artinya orang tua boleh makan dari usaha anaknya, karena anak merupakan hasil usaha orang tuanya.
Hadits yang lain: "Ada seorang laik-lakui datang kepada Nabi Shollallu 'alaihiwasallam, dan berkata: saya ini punya harta tapi juga punya anak, tapi bapakku menginginkan hartaku. maka sabda Rasulullah Shollallu 'alaihiwasallam, bahkan kamu dan hartamu kepunyaan bapakmu. demikian pula anak-anakmu merupakan hasil usahamu"

Seolah-olah hadis tersebut agak bertentangan dengan ayat Al Quran sbb.
Dalam surat An-Najm ayat 38 dan 39, artinya:
Ayat 38: "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain"
Ayat 39: "dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya"

Untuk mendownload kajian versi audio, silahkan klik link berikut:

Read More..

Kajian rutin malam senin tanggal 16 Mei 2010 (1 Jumadil Akhir 1431 H) Majelis Ta'lim As-Sunnah di RT 01 RW 01 Harjamukti, diisi oleh Ustad Wijaya Rahmat. Kajian Ilmiah masih melanjutkan kajian tauhid dari Kitab Tauhid Jilid 1 oleh Dr. Shalih Bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan. Judul bahasannya adalah Tingkatan Dien.

Pengertian Dien yang menurut Alquran jika meliputi beberapa pengertian sebagai berikut:
- Dien bisa berarti agama
- Dien bisa berarti hari pembalasan (QS 1:4; 82:9+17+18)
- Dien bisa berarti Tho'at (QS 24:65)
- Dien bisa berarti Undang-undang (QS 12:76)

Tingkatan Dien ada tiga yaitu:
1. Islam
2. Iman
3. Ikhsan
Ketiga tingkatan ini juga pernah kami muat dalam blog ini yang dinukil dari salah satu Hadis Arbain Karya Imam Nawawi. Klik disini untuk mengarah ke materi hadis tersebut.


Bagaimana pembahasannya silahkan download audionya melalui link berikut:
Tingkatan Dien (Ust Wijaya Rahmat)

Tanya Jawab Tingkatan Dien (Ust. Wijaya Rahmat)

Read More..